Tuesday, February 27, 2024
Google search engine
HomeJasa ReviewKEBUDAYAAN SUKU BUGIS

KEBUDAYAAN SUKU BUGIS

KEBUDAYAAN SUKU BUGIS

Daftar Isi :

1.1 Latar Belakang

Bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman suku, agama, dan bahasa Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan yang di hasilkan manusia sebagai wujud. Tradisi anggota masyarakat berprilaku baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan keagamaan.

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk keNusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berartiorang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yangterdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketikarakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada rajamereka. Di sampingsuku asli, orang-orang Melayu dan Minangkabau yang merantau dariSumatera ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi danpedagang di kerajaan Gowa, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak 6 juta jiwa. Kini suku Bugis menyebar pula di propinsi Sulawesi Tenggara,Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, bahkanhingga manca negara. Bugis merupakan salah satu suku yang taat dalammengamalkan ajaran Islam.

2.1 Keadaan Geografis dan Demografis

Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari dunia atas yang turun (manurung) atau dari dunia bawah yang naik (tompo) untuk membawanorma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung,tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata Bugis berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya KecamatanPammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat LaSattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Merekamenjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi.La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan BataraLattu ayahanda dari Sawerigading.Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkanbeberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar.Sawerigading Opunna Ware (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yangtertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. KisahSawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili,Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.Sulawesi Selatan adalah sebuah provinsi di Indonesia, yang terletak dibagian selatan Sulawesi. Ibu kotanya adalah Makassar, dahulu disebut ”Ujungpandang”. Sampai dengan Juni 2006, jumlah penduduk di Sulawesi Selatanterdaftar sebanyak 7.520.204 jiwa, dengan pembagian 3.602.000 laki-laki dan 63.918.204 orang perempuan dan memiliki relief berupa jazirah-jazirah yangpanjang serta pipih yang ditandai fakta bahwa tidak ada titik daratan yang jauhnyamelebihi 90 km dari batas pantai. Kondisi yang demikian menjadikan pulauSulawesi memiliki garis pantai yang panjang dan sebagian daratannya bergunung-gunung.Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12′ – 8° Lintang Selatan dan116°48′ – 122°36′ Bujur Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km². Provinsi iniberbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone danSulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat, dan Laut Flores di selatan.Kombinasi ini meghamparkan alam yang mempesona dipandang baik daridaerah pesisir maupun daerah ketinggian. Sekitar 30.000 tahun silam, pulauSulawesi telah dihuni oleh manusia. Peninggalan peradaban di masa tersebutditemukan di gua-gua bukit kapur daerah Maros kurang lebih 30 km dariMakassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Peninggalan prasejarah lainnyayang berupa alat batu peeble dan flake serta fosil babi dan gajah yang telah punah,dikumpulkan dari teras sungai di Lembah Wallanae, diantara Soppeng danSengkang, Sulawesi Selatan.Pada masa keemasan perdagangan rempah-rempah di abad ke 15 sampai dengan abad ke 19, Kerajaan Bone dan Makassar yang perkasa berperan sebagaipintu gerbang ke pusat penghasil rempah, Kepulauan Maluku. Sejarah itu telahmemantapkan opini bahwa Sulawesi Selatan memiliki peran yang sangat strategisbagi perkembangan Kawasan Timur Indonesia.Penduduk Sulawesi Selatan terdiri atas empat suku utama yaitu Toraja,Bugis, Makassar, dan Mandar. Suku Toraja terkenal memiliki keunikan tradisiyang tampak pada upacara kematian, rumah tradisional yang beratap melengkungdan ukiran cantik dengan warna natural. Sedangkan suku Bugis, Makassar danMandar terkenal sebagai pelaut yang patriotik. Dengan perahu layartradisionalnya, Pinisi, mereka menjelajah sampai ke utara Australia, beberapapulau di Samudra Pasifik, bahkan sampai ke pantai Afrika.Hasil penelitian sejarahwan Australia Utara bernama Peter G. Spillet M,mengungkapkan salah satu fakta yang tidak terbantahkan bahwa orang Sulawesi Selatanlah yang pertama mendarat di Australia dan bukannya Abel Tasman(Belanda) atau James Cook (Inggris) tahun 1642. Upaya pelurusan fakta sejarahtersebut dilakukan Peter yang kemudian dijuluki Daeng Makulle dengan sangathati-hati melalui jejak, buku-buku sejarah berupa hubungan orang Makassardengan orang Aborigin (Merege). Orang Makassar tiba di sana dengan menggunakan transportasi perahu.

BACA SELANJUTNYA :  Jasa Install Software Jayapura

2.2 Teknologi dan Peralatan Hidup

Dengan terciptanya peralatan untuk hidup yang berbeda, maka secara perlahan tapi pasti, tatanan kehidupan perorangan, dilanjutkan berkelompok,kemudian membentuk sebuah masyarakat, akan penataannya bertumpu pada sifat-sifat peralatan untuk hidup tersebut. Peralatan hidup ini dapat pula disebut sebagai hasil manusia dalam mencipta. Dengan bahasa umum, hasil ciptaan yang berupa peralatan fisik disebut teknologi dan proses penciptaannya dikatakan ilmu pengetahuan dibidang teknik. Sejak dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan menggunakan perahu Pinisi.

1.Perahu Pinisi
Perahu Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugisyang sudah terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalamnaskah Lontarak I Babad La Lagaligo, Perahu Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14M. Menurut naskah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat olehSawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang terkenal sangatkokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum pohon itu ditebang, terlebihdahulu dilaksanakan upacara khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeriTiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Singkat cerita, Sawerigading berhasil memperistri Puteri We Cudai.Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok, Sawerigading rindu kepada kampunghalamannya. Dengan menggunakan perahunya yang dulu, ia berlayar ke Luwu.Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu, tiba-tiba gelombangbesar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunyaterdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu diKelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo. Oleh masyarakat dari ketigakelurahan tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadisebuah perahu yang megah dan dinamakan Perahu Pinisi.Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsenPerahu Pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dalampembuatan perahu tersebut, terutama di Keluharan Tana Beru.
2.Sepeda Dan Bendi
Sepeda ataupun Dokar, koleksi Perangkat pertanian Tadisional ini adalahbukti sejarah peradaban bahwa sejak jaman dahulu bangsa indonesia khususnyamasyarakat Sulawesi Selatan telah dikenali sebagai masyarakat yang bercocok tanam. Mereka menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian terutamatanaman padi sebagai bahan makanan pokok.
3.Koleksi peralatan menempa besi dan hasilnya
Jika anda ingin mengenali lebih jauh tentang sisi lain dari kehidupan masalampau masyarakat Sulawesi Selatan, maka anda dapat mengkajinya melaluikoleksi trdisional menempa besi, Hasil tempaan berupa berbagai jenis senjatatajam, baik untuk penggunan sehari – hari maupun untuk perlengkapan upacaraadat.
4.Koleksi Peralatan Tenun Tradisional
Dari koleksi Peralatan Tenun Tradisional ini, dapat diketahui bahwabudaya menenun di Sulawesi Selatan diperkirakan berawal dari jaman prasejarah,yakni ditemukan berbagai jenis benda peninggalan kebudayaan dibeberapa daerahseperti leang – leang kabupaten maros yang diperkirakan sebagai pendukungpembuat pakaian dari kulit kayu dan serat – serat tumbuhan-tumbuhan. Ketikapengetahuan manusia pada zaman itu mulai Berkembang mereka menemukan carayang lebih baik yakni alat pemintal tenun dangan bahan baku benang kapas. Darisinilah mulai tercipta berbagai jenis corak kain saung dan pakaian tradisional.
5.Rumah adat
Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumahpanggung dari suku yang lain ( Sumatera dan Kalimantan ). Bentuknya biasanyamemanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagiandepan, orang bugis menyebutnya lego .

Berikut adalah bagian-bagian utamanya :
1.Tiang utama ( alliri ). Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi padaumumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
2. Fadongko’, yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.3. Fattoppo, yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliripaling tengah tiap barisnya.Mengapa orang bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong
Konon, orang bugis, jauh sebelum islam masuk ke tanah bugis ( tana ugi’ ), orang bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian,bagian atas ( botting langi ), bagian tengah ( alang tengnga ) dan bagian bawah (paratiwi ). Mungkin itulah yang mengilhami orang bugis ( terutama yang tinggaldi kampung ) lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi

Bagian bagian dari rumah bugis ini sebagai berikut :
1. Rakkeang, adalah bagian diatas langit langit ( eternit ). Dahulu biasanyadigunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola
ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ).
3. Awa bola, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengantanah.Yang lebih menarik sebenarnya dari rumah bugis ini adalah bahwa rumah inidapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakankayu. Dan uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah.

2.3 Sistem Mata Pencaharian

Wilayah Suku Bugis terletak di dataran rendah dan pesisir pulau Sulawesibagian selatan. Di dataran ini, mempunyai tanah yang cukup subur, sehinggabanyak masyarakat Bugis yang hidup sebagai petani. Selain sebagai petani, SukuBugis juga di kenal sebagai masyarakat nelayan dan pedagang. Meskipun merekamempunyai tanah yang subur dan cocok untuk bercocok tanam, namun sebagianbesar masyarakat mereka adalah pelaut.Suku Bugis mencari kehidupan dan mempertahankan hidup dari laut.Tidak sedikit masyarakat Bugis yang merantau sampai ke seluruh negeri denganmenggunakan Perahu Pinisi-nya. Bahkan, kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas hingga luar negeri, di antara wilayahperantauan mereka, seperti Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskardan Afrika Selatan. Suku Bugis memang terkenal sebagai suku yanghidup merantau. Beberapa dari mereka, lebih suka berkeliaran untuk berdagangdan mencoba melangsungkan hidup di tanah orang lain. Hal ini juga disebabkanoleh faktor sejarah orang Bugis itu sendiri di masa lalu.

2.4 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial

Suku Bugis merupakan suku yang menganut sistem patron klien atau sistem kelompok kesetiakawanan antara pemimpin dan pengikutnya yang bersifat menyeluruh. Salah satu sistem hierarki yang sangat kaku dan rumit. Namun,mereka mempunyai mobilitas yang sangat tinggi, buktinya dimana kita berada tak sulit berjumpa dengan manusia Bugis. Mereka terkenal berkarakter keras dansangat menjunjung tinggi kehormatan, pekerja keras demi kehormatan namakeluarga.

Sedangkan untuk kekerabatan keluarga mereka menganut system cognaticatau bilateral, seseorang ditelusuri melalui garis keturunan ayah dan juga ibu. Panggilan yang biasa untuk kerabat mereka adalah kaka’(saudara yang lebih tua)dan Anri’(saudara yang lebih muda). Amure’(paman) dan Inure’(bibi). Masih banyak lagi sebutan dalam system kekerabatan mereka yang lainnya.
Adat Pernikahan.

Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:

BACA SELANJUTNYA :  Kursus SEO untuk UKM

1. Assialang MaolaIalah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah maupun ibu.
2. Assialanna MemangIalah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu.
3. Ripaddeppe belaeIalah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.

Adapun perkawinan perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang(salimara):

1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucuTahap

Tahap dalam perkawinan secara adat :

1. Lettu ( lamaran) Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk menyampaikan keinginannya untu melamar calon mempelai perempuan.

2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan) Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja atau belanja perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya

3. Madduppa (Mengundang) Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar keduabelah pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan dilaksanakan

.4. Mappaccing (Pembersihan) Ialah ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada malam sebelum akad nikah dimulai,dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakandaun pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberiberkah dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon mempelai Pasangan Pengantin
Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda,dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin kerumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan, dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamumemberikan kado tau paksolo setelah akad nikah dan pesta pernikahan dirumah mempelai wanita selesai dilalanjutkan dengan acara mapparola yaitu mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki mappaenre botting

Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahim dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadapkeluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.

Sistem organisasi sosial yang terdapat di suku Bugis cukup menarik untuk diketahui. Yaitu, kedudukan kaum perempuan yang tidak selalu di bawah kekuasaan kaum laki-laki, bahkan di organisasi sosial yang berbadan hukum sekalipun. Karena Suku Bugis adalah salah satu suku di Nusantara yang menjunjung tinggi hak-hak Perempuan. Sejak zaman dahulu, perempuan di sukuBugis sudah banyak yang berkecimpung di bidang politik setempat.Jadi, banyak perempuan Bugis yang berani tampil di muka umum, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan, menjadi pendamping pria dalam diskusiurusan publik, tak jarang pula mereka menduduki tahta tertinggi di kerajaan.Misalnya Raja Lipukasi pada tahun 1814 dipimpin oleh seorang perempuan.Sampai perang kemerdekaan pun, perempuan tetap berperan aktif dalam medanlaga.

Namun di lain hal, pepatah Bugis mengatakan,”Wilayah perempuan adalah sekitar rumah sedangkan ruang gerak laki-laki menjulang hingga kelangit”. Artinya, laki-laki lah yang berkewajiban menafkahi keluarga dengansekuat tenaga. Jadi kedudukan kaum perempuan yang derajatnya hampirdisamakan dengan derajat laki-laki dalam sistem organisasi sosial, bukan berartikaum perempuan wajib untuk mencari nafkah bagi keluarganya melainkanseorang laki-laki lah yang wajib bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Hukum Adat

Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukupterkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang =semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalamtata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuahtatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: NaiyaAde’e De ’nakkeambo, de ’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itudikeluarkan Nenek Mallomo.

Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjungtinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakanyang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seoranganggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akandiusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malumasih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dandipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada puteraNenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya.

DalamLontara ’La Toa, Nenek Mallomo ’disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dansebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakatsetempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebutTUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapatditerjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh paraPallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat.Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai olehBupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.

Sistem Kemasyarakatan

Salah satu sumber yang dipakai untuk melakukan rekonstruksi adalah kesusasteraan Bugis-Makasar asli La Galigo.
Menurut Friedericy ada tiga lapisan pokok Yaitu :
(1) Anakarung ialah lapisan kaum raja
(2)To-maradeka lapisan orang merdeka yang merupakan sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan.
(3) Ata ialah lapisan orang budak.

2.5 Bahasa

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di SulawesiSelatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagianKabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang,sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, KabupatenLuwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo,Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan KabupatenBantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksaraLontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segiaspek budaya.Etnik Bugis mempunyai bahasa tersendiri dikenali sebagai Bahasa Bugis(Juga dikenali sebagai Ugi). Konsonan di dalam Ugi pula di kenali sebagaiLontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaantulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikanhasil-hasil pemikiran mereka.

Menurut Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkanfirman-firman tuhan, karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namundalam perjalanan waktu dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapioleh manusia, maka pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikianpula dengan tulisan yang dijadikan salah satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya. Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a kin gof social problem solving, and any writing system as the comman solution of a number of related problem” (1989:15)

1.Alat Untuk Pengingat
2. Memperluas jarak komunikasi
3. Sarana Untuk memindahkan Pesan Untuk Masa Yang akan dating
4. Sebagai Sistem Sosial Kontrol
5. Sebagai Media Interaksi
6. Sebagai Fungsi estetik Lontara Bugis-Makassar

BACA SELANJUTNYA :  PAKAR SEO

merupakan sebuah huruf yang sakral bagimasyarakat bugis klasik. Itu dikarenakan epos la galigo di tulis menggunakanhuruf lontara. Huruf lontara tidak hanya digunakan oleh masyarakat bugis tetapihuruf lontara juga digunakan oleh masyarakat makassar dan masyarakat luwu.Kala para penyair-penyair bugis menuangkan fikiran dan hatinya di atas daunlontara dan dihiasi dengan huruf-huruf yang begitu cantik sehingga tersusun katayang apik diatas daun lontara dan karya-karya itu bernama I La Galigo.Begitu pula yang terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapasuku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda,Budaya Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis DanBudaya Makassar.Disulawesi selatan ada 3 betuk macam huruf yang pernah dipakai secarabersamaan.1. Huruf Lontara2. Huruf Jangang-Jangang3. Huruf Seran Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraqmempunyai dua pngertian yang terkandung didalamnyaa. Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuanb. Lontaraq sebagai tulisanKata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daunlontar. Kenapa disebuat sebagai lontaran ?, karena pada awalnya tulisan tersebutdi tuliskan diatas daun lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cmsedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daunlontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu,yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri kekanan.Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaqKarakter huruf bugis ini diambil dari Aksara Pallawa (Rekonstruksi aksaradunia yang dibuat oleh Kridalaksana).
Silsilah Aksara Dunia

Memang terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan,tetapi itu tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa dalam setiap aksara didunia ini. Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut.Varian itu disebabkan antara lain
1. Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya
2. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan.

2.6 Kesenian

Alat musik

1.Kacapi(kecapi)Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya sukuBugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukanatau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layarperahu.Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu,perkawinan,hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.

2. Sinrili Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkandengan membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaanpemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

3. Gendang Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang danbundarseperti rebana.

4. SulingSuling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
•Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telahpunah.
•Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapidan dimainkan bersama penyanyi
•Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara didaerahKecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.
Seni Tari
•Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
•Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tandakesyukuran dan kehormatan
•Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuanyang sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran danketekunan perempuan-perempuan Bugis.
•Tari Pajoge dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai(waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telahpunah.
•Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dantari Pabbatte (biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).

Makanan Khas Sulawesi Selatan

1. Coto Makassar
2. Konro
3. Sop Saudara
4. Pisang Epe
5. Pisang Ijo
6. Palu Bassah
7. Pala Butung
8. Nasu Palekko (Bebek)

Permainan

Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang):Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong,Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak

Senjata Suku Bugis
KAWALI senjata khas suku bugis

2.7 Sistem Kepercayaan

Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tatahidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistemkemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhansistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwumenyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang Mandar
Ada’
Dalam hal kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan telah percaya kepadasatu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang tunggal). Terkadang pula disebut oleh orang Bugis denganistilah PatotoE (dewa yang menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya dengan Turei A’rana(kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhanyang maha mulia). Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempattertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di GunungLatimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue.Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudianmelahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru.Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagaidewa penjajah. Ia telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas dipuncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju keCerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kastaPuang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.Religi suku Bugis dan Makassar pada zaman pra islam adalah sure galigo,sebenarnya keyakinan ini telah mengandung suatu kepercayaan pada satu dewatunggal, biasa disebut patoto e (dia yang menentukan nasib), dewata seuwae(tuhan tunggal), turie a rana (kehendak yang tertinggi). Sisa kepercayaan inimasih tampak jelas pada orang To latang dikabupaten Sidenreng Rappang danorang Amma Towa di Kajang kabupaten Bulukumba.

Saat agama islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaranagama islam mudah diterima masyarakat. Karena sejak dulu mereka telah percayapada dewa tunggal. Proses penyebaran islam dipercepat dengan adanya kontak terus menerus antara masyarakat setempat dengan para pedagang melayu islamyang telah menetap di Makassar. Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang taik sesuaidengan ajaran Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam diSulawesi Selatan telah juga mengalami proses pemurnian.Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agamaIslam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik.Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orangMaluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal dikota-kota terutama di Makassar.

2.8 Pendidikan

Sampai tahun 1965, karena keadaan kekacauan terus menerus sejak zamanJepang, zaman Revolusi, dan zaman pemberontakan Kahar Muzakkar, makaperkembangan pendidikan di Sulawesi Selatan amat terbelakang kalaudibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Walaupun demikian di kota-kota,usaha memajukan pendidikan berjalan juga dan sesudah pemulihan kembalikeadaan aman, maka disamping rehabilitasi dalam sektor-sektor ekonomi, saranadan kehidupan kemasyarakatan pada umumnya, usaha dari lapangan pendidikanmendapat perhatian yang khusus.Masyarakat Bugis-Makassar mempunyai jenjang pendidikan mulai dari :PAUD, SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, Universitas, Pesantren/organisasikeagamaan terutama di daerah pesisir.

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Yansen Alexander
Yansen Alexanderhttps://yanzen.web.id
Yanzen.web.id - Blog Belajar Internet, Marketing, Komputer, Seo, Desain Grafis dan Astronomi, Konsultan Digital Printing dan Pengusaha Bisnis Online. Info Jasa Konsultasi via WA - +62-823-9985-1124
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments